Forum Wakaf Rekomendasikan Pembentukan Asosiasi Nazhir
National Waqf Komunitas atau Komunitas Wakaf Nasional yang diadakan Tubuh Wakaf Indonesia (BWI) di Aula Prof Abdullah Siddiq, Kampus Ibn Khaldun, Kota Bogor, mereferensikan pembentukan asosiasi nazhir. BWI sebagai pembina serta pengawas nazhir siap memfasilitasi.
Baca juga: Biaya Kuliah ISI - Biaya UKT ISI
“Asosiasi ini pada prinsipnya dari nazhir, oleh nazhir, serta untuk nazhir. BWI memfasilitasinya untuk memajukan perwakafan nasional, ” tutur Ketua Divisi Pembinaan Nazhir, Tubuh Wakaf Indonesia, Hendri Tanjung, dalam info persnya, Kamis (10/5/2018).
Ada 11 orang nazhir dengan suka-rela bersedia jadi formatur untuk melakukan pembentukannya. Mereka yaitu Bobby Manulang (Dompet Dhuafa), Radius Usman (Kopsyah BMI), Munashir (KSPPS al-Muawanah), Zainal Hasikin (Dewan Dakwah), Ihsan (Baitulmal Tazkia), Rudi Mulyono (Yayasan Yatim Mandiri), Yusep Iskandar (Baitul Mal Muamalat), Fahrudin (Daarut Tauhiid), UKI AW (Yayasan Darussalam), Agus Suwanto (BMT Best), serta Sukendar (Bazma Pertamina).
Asosiasi nazhir ini, menurut Hendri, juga akan jadi fasilitas untuk beberapa nazhir untuk sama-sama memperkuat keduanya, tingkatkan kompetensi dalam pengelolaan harta wakaf, menyuarakan kebutuhan nazhir serta wakaf, serta menguatkan tempat nazhir jadi satu profesi yang layak disadari serta diapresiasi seperti profesi-profesi yang beda.
Diluar itu, asosiasi nazhir juga akan merumuskan standard kompetensi yang pasti serta terarah yang perlu dipunyai oleh seseorang nazhir. Rumusan standard kompetensi yang disusun asosiasi nazhir juga akan diusulkan BWI pada Tubuh Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) serta Kementerian Tenaga Kerja untuk disahkan serta diputuskan jadi Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nazhir.
Dengan terdapatnya SKKNI Nazhir, kata Hendri, profesi nazhir jadi sama dengan profesi yang lain, seperti dokter serta advokat. “Jadi, nazhir tak akan profesi sembarangan serta asal-asalan, namun memiliki ketrampilan yang pasti, ” jelas Hendri.
Hendri optimis lewat tangan beberapa nazhir yang profesional serta mempunyai standard kompetensi yang pasti berikut wakaf dapat dikelola dengan maksimum serta hasilkan faedah maksimum untuk disalurkan pada orang-orang. Karna sampai kini, satu diantara penghalang perkembangan wakaf yaitu nazhir yg tidak profesional.
Disamping itu, Ketua Panitia Hendri Tanjung menyebutkan, acara yang bertopik “Konsolidasi Kebangkitan Wakaf Nasional” ini di hadiri sejumlah 132 nazhir serta stakeholder wakaf. Mereka yaitu nazhir-nazhir yang telah tercatat pada BWI, seperti Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Instansi Wakaf serta Pertanahan Nahdlatul Ulama, Yayasan Daarut Tauhiid Bandung, Yayasan Tazakka Batang, serta Koperasi Layanan Keuangan Syariah BMT Beringharjo Yogyakarta.
Baca juga: Biaya Kuliah Maranatha
Terkecuali beberapa nazhir, Komunitas Wakaf Nasional yang berjalan Rabu (9/5/2018) tempo hari ini di hadiri perwakilan Kementerian Agama jadi partner BWI dalam pembinaan nazhir, bank BNI Syariah sebagai instansi keuangan syariah penerima wakaf uang (LKS-PWU), Kementerian Koperasi serta UKM sebagai partner BWI dalam menyeleksi koperasi untuk jadi nazhir wakaf uang, serta akademisi asal Turki Kamola Bayrom.
Dia menyebutkan, aktivitas ini mempunyai tujuan merajut silaturahim pada beberapa nazhir serta BWI, memfasilitasi pembentukan asosiasi nazhir, serta mensosialisasikan gagasan sertifikasi nazhir. Komunitas ini gagasannya jadi agenda tahunan yang mempunyai tujuan umum merajut bersilahturahmi serta menyerap masukan beberapa nazhir.
" Mengenai maksud terutama setiap tahun dapat tidak sama sesuai sama keadaan serta keperluan waktu itu, " tandasnya.
Baca juga: Biaya Kuliah ISI - Biaya UKT ISI
“Asosiasi ini pada prinsipnya dari nazhir, oleh nazhir, serta untuk nazhir. BWI memfasilitasinya untuk memajukan perwakafan nasional, ” tutur Ketua Divisi Pembinaan Nazhir, Tubuh Wakaf Indonesia, Hendri Tanjung, dalam info persnya, Kamis (10/5/2018).
Ada 11 orang nazhir dengan suka-rela bersedia jadi formatur untuk melakukan pembentukannya. Mereka yaitu Bobby Manulang (Dompet Dhuafa), Radius Usman (Kopsyah BMI), Munashir (KSPPS al-Muawanah), Zainal Hasikin (Dewan Dakwah), Ihsan (Baitulmal Tazkia), Rudi Mulyono (Yayasan Yatim Mandiri), Yusep Iskandar (Baitul Mal Muamalat), Fahrudin (Daarut Tauhiid), UKI AW (Yayasan Darussalam), Agus Suwanto (BMT Best), serta Sukendar (Bazma Pertamina).
Asosiasi nazhir ini, menurut Hendri, juga akan jadi fasilitas untuk beberapa nazhir untuk sama-sama memperkuat keduanya, tingkatkan kompetensi dalam pengelolaan harta wakaf, menyuarakan kebutuhan nazhir serta wakaf, serta menguatkan tempat nazhir jadi satu profesi yang layak disadari serta diapresiasi seperti profesi-profesi yang beda.
Diluar itu, asosiasi nazhir juga akan merumuskan standard kompetensi yang pasti serta terarah yang perlu dipunyai oleh seseorang nazhir. Rumusan standard kompetensi yang disusun asosiasi nazhir juga akan diusulkan BWI pada Tubuh Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) serta Kementerian Tenaga Kerja untuk disahkan serta diputuskan jadi Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nazhir.
Dengan terdapatnya SKKNI Nazhir, kata Hendri, profesi nazhir jadi sama dengan profesi yang lain, seperti dokter serta advokat. “Jadi, nazhir tak akan profesi sembarangan serta asal-asalan, namun memiliki ketrampilan yang pasti, ” jelas Hendri.
Hendri optimis lewat tangan beberapa nazhir yang profesional serta mempunyai standard kompetensi yang pasti berikut wakaf dapat dikelola dengan maksimum serta hasilkan faedah maksimum untuk disalurkan pada orang-orang. Karna sampai kini, satu diantara penghalang perkembangan wakaf yaitu nazhir yg tidak profesional.
Disamping itu, Ketua Panitia Hendri Tanjung menyebutkan, acara yang bertopik “Konsolidasi Kebangkitan Wakaf Nasional” ini di hadiri sejumlah 132 nazhir serta stakeholder wakaf. Mereka yaitu nazhir-nazhir yang telah tercatat pada BWI, seperti Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Instansi Wakaf serta Pertanahan Nahdlatul Ulama, Yayasan Daarut Tauhiid Bandung, Yayasan Tazakka Batang, serta Koperasi Layanan Keuangan Syariah BMT Beringharjo Yogyakarta.
Baca juga: Biaya Kuliah Maranatha
Terkecuali beberapa nazhir, Komunitas Wakaf Nasional yang berjalan Rabu (9/5/2018) tempo hari ini di hadiri perwakilan Kementerian Agama jadi partner BWI dalam pembinaan nazhir, bank BNI Syariah sebagai instansi keuangan syariah penerima wakaf uang (LKS-PWU), Kementerian Koperasi serta UKM sebagai partner BWI dalam menyeleksi koperasi untuk jadi nazhir wakaf uang, serta akademisi asal Turki Kamola Bayrom.
Dia menyebutkan, aktivitas ini mempunyai tujuan merajut silaturahim pada beberapa nazhir serta BWI, memfasilitasi pembentukan asosiasi nazhir, serta mensosialisasikan gagasan sertifikasi nazhir. Komunitas ini gagasannya jadi agenda tahunan yang mempunyai tujuan umum merajut bersilahturahmi serta menyerap masukan beberapa nazhir.
" Mengenai maksud terutama setiap tahun dapat tidak sama sesuai sama keadaan serta keperluan waktu itu, " tandasnya.
Comments
Post a Comment