Polisi Periksa 11 Saksi Kasus Pemerkosaan Mahasiswi Unpad
Polisi sudah mengecek 11 saksi berkaitan pendapat penculikan serta pemerkosaan pada JS, 20, mahasiswa Kampus Padjajaran asal Malaysia.
"Kita konsentrasi pada info awal korban," tutur Kabidhumas Polda Jawa barat, Kombes Pol Martinus pada wartawan, di Mabespolda Jawa barat, Jalan Soekarno Hatta, Jumat (23/5/2014).
Baca juga: Biaya Kuliah UNRI - Biaya UKT UNRI
Dari info awal, lanjut dia, korban diculik jam 20.00 Wib di daerah Jatinangor. Untuk pastikan hal itu pihak kepolisian sudah lakukan investigasi dengan memahami kembali info korban.
"Kita pastikan dahulu jika TKP awal ialah di Jatinangor. Sesudah kita yakinkan kita mesti memahami lagi info korban karena keadaan saat itu saat sebelum peristiwa tentu ramai serta didapati orang," tuturnya.
Diluar itu, pihaknya juga memahami info berkaitan kondisi keseharian tempat peristiwa dan sehari-harinya korban dari beberapa saksi masyarakat negara Malaysia yang juga ialah rekan korban (JS).
"Kami juga memahami info rekan korban berkaitan profile berkaitan (JS) serta mohon kejelasannya, karena yang kami kenali korban (JS) ini tidak tinggal di asrama tetapi diluar, Itu juga jadi salah satunya bahan penyelidikan yang akan kita dalami," paparnya
Selanjutnya, penyidik juga mengecek alat komunikasi punya korban, karena dengan IT, hal seperti ini butuh dikerjakan untuk lakukan pencarian.
"Kami juga periksakan apa barang korban yang hilang, yang itu dapat disibak serta dibedah apa pembicaraannya, sekarang team masih tetap bekerja serta memerlukan waktu untuk menganalisa semua," tutur dia.
JS sekarang sudah pulang ke negara aslinya Malaysia. Walau demikian, menurut Martinus, kepolisian tidak alami kesusahan dalam soal itu. "Karena bila ada info yang kurang, kita dapat mohon info korban by phone, ataupun e-mail," katanya.
Baca juga: Biaya Kuliah UNPAR
Sampai sekarang pihaknya belumlah terima dengan sah hasil visum korban. Akan tetapi berdasar pada info dari dokter ada pertanda kekerasan pada korban. "Ada luka lebam pada korban," tuturnya.
Selain itu, pihaknya mengimbau pada penduduk yang tahu info berkaitan masalah ini untuk memberikan laporan langsung ke kepolisian.
Bila takut akan dilibatkan dalam kontrol, dapat menginformasikannya dengan pribadi. "Contohnya, bila dari 4 orang, ada 2-3 orang yang lakukan tengah satu orang terasa tidak lakukan, dapat memberikan laporan dengan pribadi serta kami akan beri kemudahan, atau bahkan juga melepas," tuturnya.
"Kita konsentrasi pada info awal korban," tutur Kabidhumas Polda Jawa barat, Kombes Pol Martinus pada wartawan, di Mabespolda Jawa barat, Jalan Soekarno Hatta, Jumat (23/5/2014).
Baca juga: Biaya Kuliah UNRI - Biaya UKT UNRI
Dari info awal, lanjut dia, korban diculik jam 20.00 Wib di daerah Jatinangor. Untuk pastikan hal itu pihak kepolisian sudah lakukan investigasi dengan memahami kembali info korban.
"Kita pastikan dahulu jika TKP awal ialah di Jatinangor. Sesudah kita yakinkan kita mesti memahami lagi info korban karena keadaan saat itu saat sebelum peristiwa tentu ramai serta didapati orang," tuturnya.
Diluar itu, pihaknya juga memahami info berkaitan kondisi keseharian tempat peristiwa dan sehari-harinya korban dari beberapa saksi masyarakat negara Malaysia yang juga ialah rekan korban (JS).
"Kami juga memahami info rekan korban berkaitan profile berkaitan (JS) serta mohon kejelasannya, karena yang kami kenali korban (JS) ini tidak tinggal di asrama tetapi diluar, Itu juga jadi salah satunya bahan penyelidikan yang akan kita dalami," paparnya
Selanjutnya, penyidik juga mengecek alat komunikasi punya korban, karena dengan IT, hal seperti ini butuh dikerjakan untuk lakukan pencarian.
"Kami juga periksakan apa barang korban yang hilang, yang itu dapat disibak serta dibedah apa pembicaraannya, sekarang team masih tetap bekerja serta memerlukan waktu untuk menganalisa semua," tutur dia.
JS sekarang sudah pulang ke negara aslinya Malaysia. Walau demikian, menurut Martinus, kepolisian tidak alami kesusahan dalam soal itu. "Karena bila ada info yang kurang, kita dapat mohon info korban by phone, ataupun e-mail," katanya.
Baca juga: Biaya Kuliah UNPAR
Sampai sekarang pihaknya belumlah terima dengan sah hasil visum korban. Akan tetapi berdasar pada info dari dokter ada pertanda kekerasan pada korban. "Ada luka lebam pada korban," tuturnya.
Selain itu, pihaknya mengimbau pada penduduk yang tahu info berkaitan masalah ini untuk memberikan laporan langsung ke kepolisian.
Bila takut akan dilibatkan dalam kontrol, dapat menginformasikannya dengan pribadi. "Contohnya, bila dari 4 orang, ada 2-3 orang yang lakukan tengah satu orang terasa tidak lakukan, dapat memberikan laporan dengan pribadi serta kami akan beri kemudahan, atau bahkan juga melepas," tuturnya.
Comments
Post a Comment