Genjot Ekspor Industri Makanan dan Minuman Lewat Pameran di Paris

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) selalu meningkatkan daya saing industri minuman dan makanan nasional supaya lebih bersaing di pasar global. Langkah strategis ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 dan usaha pemerintah dalam menggenjot nilai export nasional dari produk manufaktur.

“Selain menggerakkan penambahan kualitas dan peningkatan pengembangan serta tehnologi paling baru, kami ikut memfasilitasi aktor industri nasional termasuk juga produsen minuman dan makanan untuk makin memperluas market share serta aksesnya ke rantai supply dunia hingga bisa mengangkat kapasitasnya,” kata Plt. Direktur Jenderal Ketahanan serta Peningkatan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Ngakan Timur Pada, di Jakarta, Senin (29/10/2018).

Menurut Ngakan, industri minuman dan makanan adalah salah satunya bidang andalan sebab dapat memberi peran yang berarti buat perkembangan ekonomi nasional. “Maka itu, bidang ini yang tengah diutamakan pengembangannya dalam masuk masa revolusi industri 4.0 di Indonesia. Ditambah lagi, industri minuman dan makanan nasional sudah berkapasitas saing global,” tuturnya.

Kemenperin optimis, implementasi Making Indonesia 4.0 dapat mengatrol export minuman dan makanan olahan nasional sampai 4x lipat, dari tujuan tahun ini seputar USD12,65 miliar yang bisa menjadi sebesar USD50 miliar pada 2025. “Apabila nilai export produk minuman dan makanan, ikut dihitung termasuk juga minyak kelapa sawit, pada tahun 2017 sampai USD31,7 miliar,” papar Ngakan.

Baca juga: Jurusan di UNIMAL

Karena itu, untuk memperluas jaringan pasar export, Kemenperin aktif memfasilitasi industri nasional ikut juga dalam pekerjaan pameran baik di ataupun luar negeri. Contohnya, lewat kerja sama juga dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, sekitar 18 aktor usaha minuman dan makanan dari Indonesia bisa tampil pada arena Salon International de l'Alimentation (SIAL) Paris 2018.

Mereka tempati ruang seluas 180m2 di Paviliun Indonesia untuk mempromokan beberapa produk unggulannya pada beberapa pengunjung pameran minuman dan makanan yang diselenggarakan tiap-tiap dua tahun sekali ini. Pekerjaan yang telah berjalan pada 21-25 Oktober 2018 ini diprediksikan di hadiri sekitar 155.000 orang pengunjung serta menyertakan 7.020 peserta dari 109 negara.

“Ini peluang yang begitu bagus, sebab adalah salah satunya pameran Business to Business (B2B) paling besar dalam dunia. Diluar itu, menjadi bentuk riil suport pemerintah pada industri minuman dan makanan nasional untuk meningkatkan aksesnya ke pasar internasional,” tambah Ngakan.

Direktur Akses Sumber Daya Industri serta Promo Internasional Ditjen KPAII Kemenperin, Tony T.H Sinambela mengemukakan, proses seleksi calon peserta sudah dikerjakan mulai awal tahun ini lewat pendaftaran terbuka di situs http://pameranln.kemenperin.go.id. “Aktivitas kurasi dikerjakan berbentuk kunjungan langsung ke calon peserta untuk lakukan penilaian dengan menyertakan beberapa pakar yang mumpuni,” katanya.

Selanjutnya, kata Tony, perusahaan yang dipilih memperoleh kursus serta pendampingan supaya lebih siap serta optimal dalam berperan serta di SIAL Paris 2018. “Kami tidak cuma mempersiapkan aktor industri supaya optimal di pameran, tapi ikut menolong dalam matchmaking dengan potential buyers. Dalam perihal ini, kami menggandeng partner internasional di Eropa, yakni SIPPO Swiss yang mempunyai jalinan dekat dengan beberapa pebisnis di Eropa” tuturnya.

Pada pameran SIAL Paris 2018, Kemenperin membawa sembilan aktor industri kecil serta menengah (IKM) bidang minuman dan makanan. Ke-9 perusahaan yang lain adalah binaan KBRI di Paris. “Mereka yang terseleksi datang dari beberapa lokasi di Indonesia, serta dengan keberagaman produk,” katanya.

Ke-18 perusahaan Indonesia itu, yaitu Mignon Sista Internasional (minyak mendasar, biji vanilla, moringa, daun kari, jeruk purut), Kawanasi (fruit chips), Java Peppers Industries (cabai ceri, cabai rawit serta bermacam sambal), Manna Anugrah Sejahtera (gula kelapa, gula arenga, sirup nektar organik), Karsa Kekal Madeteas (teh herbal), Hitara Cipta Sesuai (black garlic), serta Biobali Internasional (minyak organik).

Baca juga: Biaya Kuliah POLINEMA - Biaya UKT POLINEMA

Selanjunya, Partner Ayu Adi Pratama (ekstrak pandan, Mace oil and Mace oleoresin, minyak pala serta oleoresin, minyak lada hitam, minyak jahe serta Ginger Oleoresin, minyak Massoia, serta esktrak kopi), Pondok Daya (gula kelapa organik, kacang pili alami), Danora Agro Sempurna (spesialis produk cocoa), Siantar Top (camilan), serta Javara (bumbu makanan, produk kelapa),

Lalu ada pula Universal Trading (canned seafood), Nison Indonesia (canned seafood), Sari Fresh Husada (produk kelapa), Coco Sugar Indonesia (gula kelapa), Mayora (camilan serta kopi), serta Interaromat (camilan, teh serta kopi).

Berdasar pada catatan Kemenperin, export produk minuman dan makanan Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2017 sampai USD14 miliar. Sesaat periode Januari-Juli 2018, export produk minuman dan makanan Indonesia ke Perancis pada tahun 2017 sebesar USD8,21 juta.

Comments

Popular posts from this blog

Wisata di Lembang Bandung Tutup 14 Hari,

#Indonesia_LockdownPlease Trending!

Cek Stok Pangan Jangan Hanya dari Laporan