OJK Minta Bank Perkreditan Rakyat Kompetitif di Era Digital
Kepala Otoritas Layanan Keuangan (OJK) Wimboh Santoso minta Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih bersaing di masa digital. Pertarungan makin ketat sebab financial tecnologi (fintech) sekarang memulai merambah lokasi pelosok.
“Prosesnya cepat sekali, tanpa izin. Sekarang ini telah masuk ke daerah. BPR mesti siap untuk pertandingan dengan itu (fintech),” kata Wimboh Santoso selesai buka Musyarawah Nasional (Munas) Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) yang diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (22/10).
Baca juga: Jurusan di UAD
Hingga BPR, jelas ia ingin tidak ingin mesti bertransformasi operasinya dengan memakai digital. Dengan digital, BPR diinginkan dapat bersaing dengan memakai produk baru yang telah masuk ke pelosok-pelosok. Baik lewat produk perbankan atau produk layanan keuangan yang lain atau bahkan juga dengan memakai fintech.
BPR menurut dia bisa lakukan kolaborasi, network untuk sama-sama dukungan serta meningkatkan produk bersama. Termasuk meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) supaya bagus serta berkompetisi. Terdaftar dana utang fintech sampai Rp13 triliun semenjak tahun 2016 sampai saat ini.
OJK sendiri diutamakan selalu menggerakkan supaya bunga utang fintech tidak sangat tinggi. “Artinya jangan pernah sama juga dengan rentenir, mesti tambah murah serta memiliki empati menolong penduduk kecil di daerah yang memerlukan pembiayaan,” imbuhnya.
Ketua Umum Perbarindo Joko Suyanto mengutarakan, fintech adalah keniscayaan sebab tuntutan penduduk pada service, terutamanya di tehnologi, pentingnya di finance industri juga bakal berlangsung. Hingga Perbarindo sekarang tengah menyiapkan transformasi BPR now. “Kami mempersiapkan yang berkembang saat ini ialah fintech, BPR mesti bertransformasi bagaimana dapat melayani public, percepat akses keuangan,” tutur Joko Suyanto.
Baca juga: Jurusan di UMY
Transformasi itu salah satunya dengan tingkatkan servis level, baik lewat elektronifikasi serta ataupun BPR digital. Langkah yang ditempuh salah satunya dengan mempersiapkan infrastruktur digital. Industri BPR ataupun BPR Syariah terdaftar mempunyai suport kantor yang sampai 6.664 unit yang menyebar dari Aceh sampai Papua.
Perubahan jumlahnya credit yang dialirkan sampai Rp95 triliun atau tumbuh 8,59% di banding tempat tahun awal mulanya. Dari penghimpunan dana, jumlahnya tabungan sampai Juli 2018 sampai Rp28 triliun. Atau naik 14,23 di banding tempat tahun awal mulanya. Perihal yang sama pada bagian deposito yang tumbuh 8,99%. “Keberhasilan dalam mengumpulkan dana pihak ke-3 menggambarkan tingkat keyakinan penduduk makin bertambah,” tegasnya.
Industri BPR-BPRS sudah melayani 17 juta nasabah yang terbagi dalam debitur seputar 4 juta rekening dengan rata rata utang Rp27 juta. Sedang deposan sekitar 600.000 rekening dengan rata rata deposito Rp102 juta. Sedang penabunng 12,4 juta rekening dengan rata rata tabungan Rp2 juta.
“Prosesnya cepat sekali, tanpa izin. Sekarang ini telah masuk ke daerah. BPR mesti siap untuk pertandingan dengan itu (fintech),” kata Wimboh Santoso selesai buka Musyarawah Nasional (Munas) Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) yang diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (22/10).
Baca juga: Jurusan di UAD
Hingga BPR, jelas ia ingin tidak ingin mesti bertransformasi operasinya dengan memakai digital. Dengan digital, BPR diinginkan dapat bersaing dengan memakai produk baru yang telah masuk ke pelosok-pelosok. Baik lewat produk perbankan atau produk layanan keuangan yang lain atau bahkan juga dengan memakai fintech.
BPR menurut dia bisa lakukan kolaborasi, network untuk sama-sama dukungan serta meningkatkan produk bersama. Termasuk meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) supaya bagus serta berkompetisi. Terdaftar dana utang fintech sampai Rp13 triliun semenjak tahun 2016 sampai saat ini.
OJK sendiri diutamakan selalu menggerakkan supaya bunga utang fintech tidak sangat tinggi. “Artinya jangan pernah sama juga dengan rentenir, mesti tambah murah serta memiliki empati menolong penduduk kecil di daerah yang memerlukan pembiayaan,” imbuhnya.
Ketua Umum Perbarindo Joko Suyanto mengutarakan, fintech adalah keniscayaan sebab tuntutan penduduk pada service, terutamanya di tehnologi, pentingnya di finance industri juga bakal berlangsung. Hingga Perbarindo sekarang tengah menyiapkan transformasi BPR now. “Kami mempersiapkan yang berkembang saat ini ialah fintech, BPR mesti bertransformasi bagaimana dapat melayani public, percepat akses keuangan,” tutur Joko Suyanto.
Baca juga: Jurusan di UMY
Transformasi itu salah satunya dengan tingkatkan servis level, baik lewat elektronifikasi serta ataupun BPR digital. Langkah yang ditempuh salah satunya dengan mempersiapkan infrastruktur digital. Industri BPR ataupun BPR Syariah terdaftar mempunyai suport kantor yang sampai 6.664 unit yang menyebar dari Aceh sampai Papua.
Perubahan jumlahnya credit yang dialirkan sampai Rp95 triliun atau tumbuh 8,59% di banding tempat tahun awal mulanya. Dari penghimpunan dana, jumlahnya tabungan sampai Juli 2018 sampai Rp28 triliun. Atau naik 14,23 di banding tempat tahun awal mulanya. Perihal yang sama pada bagian deposito yang tumbuh 8,99%. “Keberhasilan dalam mengumpulkan dana pihak ke-3 menggambarkan tingkat keyakinan penduduk makin bertambah,” tegasnya.
Industri BPR-BPRS sudah melayani 17 juta nasabah yang terbagi dalam debitur seputar 4 juta rekening dengan rata rata utang Rp27 juta. Sedang deposan sekitar 600.000 rekening dengan rata rata deposito Rp102 juta. Sedang penabunng 12,4 juta rekening dengan rata rata tabungan Rp2 juta.
Comments
Post a Comment