Guru Besar Perlu Turun Gunung Atasi Persoalan Bangsa
Peran riil beberapa guru besar terutamanya di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTIK) begitu diperlukan untuk menanggapi ramainya kejadian sosial menjadi imbas disrupsi tehnologi digital. Guru besar mesti melayani penduduk, tidak cukuplah kembali memberi pengajaran atau penelitian.
Dorongan itu mengemuka dalam the 2nd Islamic Higher Education Professor (IHEP) Summit di Kota Bandung, Jawa Barat yang selesai, tempo hari. Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) Guru Besar PTIK ini diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Diktis, Kementerian Agama (Kemenag).
Baca juga : Jurusan di ISI SURAKARTA
Komunitas diskusi yang didatangi 100 guru besar PTIK dari semua Indonesia diselenggarakan semenjak Jumat (7/12) kemarin. IHEP di buka dengan sah oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, Sabtu (8/12). Ada dalam peluang itu ialah Dirjen Pendidikan Islam Prof Dr Phil Kamarudin Amin MA, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Prof Dr Arskal Salim GP, serta semua direktur di deretan Kemenag.
Di hari pertama, Jumat (7/12), diskusi the 2nd IHEP Summit yang mengangkat topik Membingkai Agama serta Berkebangsaan itu mendatangkan pembicara dari kelompok generasi milenial, yaitu Muhammad Iman Usman, sang pendiri aplikasi mengajar digital ruangguru.com.
Dalam pemaparannya, Iman ajak beberapa guru besar melek tehnologi info (TI). Menurut Iman, belajar mengajar sekarang ini tidak cukuplah dikerjakan dengan konvensional. Karena, siswa serta mahasiswa sekarang ialah generasi milenial yang akrab dengan TI, gadget/gawai.
Iman yang jadi pembicara di acara itu menjelaskan, dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini berjalan stagnan. Ada banyak masalah yang mengakibatkan laju pendidikan di Indonesia jalan dalam tempat.
Diantaranya, potensi atau kompetensi guru yang kurang mencukupi, baik wacana, pengetahuan, ataupun langkah mengemukakan mata ajar. Mereka biasanya masih tetap konvensional dalam mengajar, atau cuma bergelut dengan buku pelajaran tiada kreatifitas. Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan juga melaunching nilai kompetensi guru di Indonesia cuma 53.
Aspek lainnya, kata Iman, masih tetap terdapatnya disparitas atau ketimpangan potensi pada siswa di daerah dengan di kota. Waktu ujian nasional (UN), pencapaian nilai siswa baik SD, SMP, ataupun SMA di daerah, jauh dibawah nilai rata-rata siswa yang ada di kota-kota besar.
"Sebab persoalan-persoalan berikut, ruangguru.com ada menjadi jalan keluar. Pengayaan materi serta langkah penyampaian mata ajar dikemas demikian rupa supaya siswa gampang menyerapnya dimana serta kapanpun. Mereka cukuplah buka aplikasi ruangguru.com di handphone (hp) berbasiskan Android. Langkah mengajar generasi milenial mesti berlainan dari generasi awal mulanya," kata Iman.
Pada hari ke-2, Sabtu (8/12), the 2nd IHEP Summit mendatangkan tiga pembicara di luar Kemenag, diantaranya Guru Besar Islam dari Monash University Australia Nadirsyah Hosen, intelektual serta Direktur Penting Mizan Group Haidar Bagir, serta budayawan Radhar Panca Dahana.
Menag Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan, kehidupan umat beragama di Indonesia sekarang mendapatkan intimidasi serius bersamaan datangnya masa disrupsi dalam semua bagian. Waktu info telah berjalan cepat tiada batas teritorial, kata Menag, dampak transnasionalisasi Islam membawa efek negatif buat kehidupan beragama serta bernegara.
Baca juga : Jurusan di POLMAN
"Masa disrupsi tehnologi sudah menyeret umat beragama pada tingkah laku terlalu berlebih dengan dua kutub berlebihan, konservatisme serta liberalisme. Kedua-duanya membuat intimidasi, tidak cuma buat keberagamaan, tapi ikut keindonesiaan," kata Lukman di Bandung, Sabtu (8/12/2018).
Banyak kejadian aktual, seperti ramainya dakwah lewat cara geram, pro-kontra bendera tauhid, serta desas-desus keislaman politis melaju ke muka umum tiada tinjauan akademis yang membuat cerah. "Kenapa tidak sempat ada studi yang mendalam mengenai ini? Ini current issues yang umat menunggu-nunggu. Masalah aktual yang berlangsung semestinya direspons dengan pendekatan akademik yang kaya basis ilmiah," tegas Menag.
Ia juga mengkritik beberapa guru besar yang kurang peka pada kejadian yang berlangsung di sekelilingnya itu. Menurutnya, peranan guru besar tidak cuma sekitar pengajaran, penelitian, analisis ilmiah, serta pekerjaan akademis, akan tetapi tidak kalah terpenting ialah service penduduk.
"Jika pendidikan cuma dimaknai transformasi ilmu dan pengetahuan, jadi gadget bertindak lebih baik. Dalam genggaman tangan, gawai tambah lebih cepat penuhi keperluan pengetahuan serta info, melewati dosen serta guru besar," katanya.
Dorongan itu mengemuka dalam the 2nd Islamic Higher Education Professor (IHEP) Summit di Kota Bandung, Jawa Barat yang selesai, tempo hari. Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) Guru Besar PTIK ini diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Diktis, Kementerian Agama (Kemenag).
Baca juga : Jurusan di ISI SURAKARTA
Komunitas diskusi yang didatangi 100 guru besar PTIK dari semua Indonesia diselenggarakan semenjak Jumat (7/12) kemarin. IHEP di buka dengan sah oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, Sabtu (8/12). Ada dalam peluang itu ialah Dirjen Pendidikan Islam Prof Dr Phil Kamarudin Amin MA, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Prof Dr Arskal Salim GP, serta semua direktur di deretan Kemenag.
Di hari pertama, Jumat (7/12), diskusi the 2nd IHEP Summit yang mengangkat topik Membingkai Agama serta Berkebangsaan itu mendatangkan pembicara dari kelompok generasi milenial, yaitu Muhammad Iman Usman, sang pendiri aplikasi mengajar digital ruangguru.com.
Dalam pemaparannya, Iman ajak beberapa guru besar melek tehnologi info (TI). Menurut Iman, belajar mengajar sekarang ini tidak cukuplah dikerjakan dengan konvensional. Karena, siswa serta mahasiswa sekarang ialah generasi milenial yang akrab dengan TI, gadget/gawai.
Iman yang jadi pembicara di acara itu menjelaskan, dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini berjalan stagnan. Ada banyak masalah yang mengakibatkan laju pendidikan di Indonesia jalan dalam tempat.
Diantaranya, potensi atau kompetensi guru yang kurang mencukupi, baik wacana, pengetahuan, ataupun langkah mengemukakan mata ajar. Mereka biasanya masih tetap konvensional dalam mengajar, atau cuma bergelut dengan buku pelajaran tiada kreatifitas. Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan juga melaunching nilai kompetensi guru di Indonesia cuma 53.
Aspek lainnya, kata Iman, masih tetap terdapatnya disparitas atau ketimpangan potensi pada siswa di daerah dengan di kota. Waktu ujian nasional (UN), pencapaian nilai siswa baik SD, SMP, ataupun SMA di daerah, jauh dibawah nilai rata-rata siswa yang ada di kota-kota besar.
"Sebab persoalan-persoalan berikut, ruangguru.com ada menjadi jalan keluar. Pengayaan materi serta langkah penyampaian mata ajar dikemas demikian rupa supaya siswa gampang menyerapnya dimana serta kapanpun. Mereka cukuplah buka aplikasi ruangguru.com di handphone (hp) berbasiskan Android. Langkah mengajar generasi milenial mesti berlainan dari generasi awal mulanya," kata Iman.
Pada hari ke-2, Sabtu (8/12), the 2nd IHEP Summit mendatangkan tiga pembicara di luar Kemenag, diantaranya Guru Besar Islam dari Monash University Australia Nadirsyah Hosen, intelektual serta Direktur Penting Mizan Group Haidar Bagir, serta budayawan Radhar Panca Dahana.
Menag Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan, kehidupan umat beragama di Indonesia sekarang mendapatkan intimidasi serius bersamaan datangnya masa disrupsi dalam semua bagian. Waktu info telah berjalan cepat tiada batas teritorial, kata Menag, dampak transnasionalisasi Islam membawa efek negatif buat kehidupan beragama serta bernegara.
Baca juga : Jurusan di POLMAN
"Masa disrupsi tehnologi sudah menyeret umat beragama pada tingkah laku terlalu berlebih dengan dua kutub berlebihan, konservatisme serta liberalisme. Kedua-duanya membuat intimidasi, tidak cuma buat keberagamaan, tapi ikut keindonesiaan," kata Lukman di Bandung, Sabtu (8/12/2018).
Banyak kejadian aktual, seperti ramainya dakwah lewat cara geram, pro-kontra bendera tauhid, serta desas-desus keislaman politis melaju ke muka umum tiada tinjauan akademis yang membuat cerah. "Kenapa tidak sempat ada studi yang mendalam mengenai ini? Ini current issues yang umat menunggu-nunggu. Masalah aktual yang berlangsung semestinya direspons dengan pendekatan akademik yang kaya basis ilmiah," tegas Menag.
Ia juga mengkritik beberapa guru besar yang kurang peka pada kejadian yang berlangsung di sekelilingnya itu. Menurutnya, peranan guru besar tidak cuma sekitar pengajaran, penelitian, analisis ilmiah, serta pekerjaan akademis, akan tetapi tidak kalah terpenting ialah service penduduk.
"Jika pendidikan cuma dimaknai transformasi ilmu dan pengetahuan, jadi gadget bertindak lebih baik. Dalam genggaman tangan, gawai tambah lebih cepat penuhi keperluan pengetahuan serta info, melewati dosen serta guru besar," katanya.
Comments
Post a Comment