Masyarakat Harus Adaptif dengan Disrupsi Teknologi

Penduduk diimbau tidak cemas tentang lapangan pekerjaan yang diprediksikan hilang karena disrupsi tehnologi 4.0. Direktur Jenderal Pembinaan Kursus serta Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan Bambang Satrio Lelono menjelaskan, yang sangat terpenting ialah penduduk mesti bertransformasi pada pergantian.

Baca juga : Jurusan di POLINEMA

"Yang terpenting itu bagaimana penduduk siap melawan pergantian. Bagaimana juga, jika penduduk siap, penyesuaian juga bakal berlangsung," tutur Bambang pada HR Summit 2018 di Jakarta, Selasa (18/12/2018).

HR Summit ambil topik Focusing on Corporate Culture & Soft Competence for Sustainable Growth Through Vocation & Industry 4.0 - Ke arah Industri Berdikari serta Sejahtera, yang digagas Industry & Business Intitute of Management (IBIMA) dengan mendatangkan beberapa pembicara diantaranya Staf Pakar Menristekdikti Prof. Paulina Pannen, Presiden IOI - CEO IBIMA I Made Dana Terampil dan akademisi serta pegiat industri.

Bambang menuturkan jika masuk masa industri 4.0 banyak terdampak pada disrupsi. Mengakibatkan ada jabatan-jabatan yang menyusut, akan tetapi demikian sebaliknya semakin banyak jabatan atau posisi-posisi baru yang terbentuk.

"Kenyataan semacam ini tidak butuh di kuatirkan saat SDM dapat adaptif pada pergantian. Dalam kata lainnya, Revolusi industri 4.0 tidak akan kurangi jumlahnya lapangan pekerjaan," pungkas Bambang.

Sesaat, Staf Pakar Menristekdikti Paulina Pannen menjelaskan, kecemasan akan terdapatnya pekerjaan yang hilang karena digantikan tenaga robot tidak akan berlangsung. Demikian sebaliknya menurutnya, semua pihak mesti jadi pemimpin digital serta revolusi industri 4.0. "Ini ialah momen serta peluang kita untuk mencapai kesempatan," tegas Paulina.

Kemenristekdikti sendiri, kata Paulina, mendeskripsikan Revolusi Industri 4.0 itu ialah revolusi budaya, revolusi di mana manusia dalam beberapa segi kehidupan serta bukan hanya revolusi tehnologi. "Sebab apakah, sebab revolusi itu membawa etika baru dalam sehari-harinya manusia. Perumpamaannya ada satu keluarga yang makan bersama dengan, tapi mereka asik dengan gadget semasing, serta itu ialah budaya baru," tuturnya.

Baca juga : Jurusan di UIN MALANG

Sesaat Made Terampil menjelaskan, HR Summit jadi peluang luas untuk membahas serta mempersiapkan taktik bangun industri lewat peningkatan vokasi yang pas dan taktik implementasi Industry 4.0. Harapannya, papar Made Terampil, HR summit bisa jadi komunitas share serta learning untuk mengulas desas-desus strategis mengenai corporate culture serta soft competence.

"Termasuk juga memberi peluang pada aktor usaha yang sudah sukses mengurus corporate culture & soft human capital untuk share pengetahuan serta pengalaman, memberi peluang pada aktor usaha terutamanya HR executives untuk menimba pengalaman dari CEO serta Founder yang sudah sukses," pungkasnya.

Comments

Popular posts from this blog

Wisata di Lembang Bandung Tutup 14 Hari,

#Indonesia_LockdownPlease Trending!

Cek Stok Pangan Jangan Hanya dari Laporan