Utang Luar Negeri Meningkat, Proyek Infrastruktur Disarankan Ditunda
Utang Luar Negeri yang sampai USD360,5 miliar, terbagi dalam utang pemerintah serta bank sentra sebesar USD178,3 miliar dan utang swasta termasuk juga BUMN sebesar USD182,2 miliar ini cukuplah memprihatinkan. Menurut Ekonom Indef Bhima Yudisthira menjelaskan jika pemerintah semestinya tidak memercayakan pembiayaan utang untuk pembangunan infrastruktur supaya tidak membuat neraca perdagangan tergerus.
Baca juga : Jurusan di UNIJOYO
"Tunda project infrastruktur yang utamakan pembiayaan utang luar negeri. Pastikan utang tidak untuk menambal defisit biaya yang konsumtif contohnya berbelanja pegawai serta pertolongan sosial," tutur Bhima waktu dihubungi SINDOnews di Jakarta,Selasa (18/12/2018)
Selanjutnya, jelas ia pemerintah juga mesti menggerakkan kapasitas export. Ditambah lagi, neraca perdagangan masih tetap defisit karena tingginya import non migas. Awal mulanya Tubuh Pusat Statistik (BPS) melaunching data neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 yang kembali alami defisit UDS2,05 miliar. Realisasi neraca perdagangan ini makin turun di banding Oktober 2018 yang ikut defisit sebesar USD1,82 miliar.
Baca juga : Jurusan di PENS
"Dorong kapasitas export. Yakinkan utang di hedging atau lindung nilai hingga terbangun dari beda kurs yang berefek, lantas kontrol import migas melalui percepatan implementasi b20. Juga bisa dengan dorong PLN supaya ingin serap biodisel untuk pembangkit listrik tenaga diesel," tuturnya.
Karena hal itu, Ia ikut merekomendasikan supaya tingkatkan export kelapa sawit ke sejumlah negara. Diantaranya menguatkan team negosiasi penentuan tarif sawit pada pemerintah India.
Baca juga : Jurusan di UNIJOYO
"Tunda project infrastruktur yang utamakan pembiayaan utang luar negeri. Pastikan utang tidak untuk menambal defisit biaya yang konsumtif contohnya berbelanja pegawai serta pertolongan sosial," tutur Bhima waktu dihubungi SINDOnews di Jakarta,Selasa (18/12/2018)
Selanjutnya, jelas ia pemerintah juga mesti menggerakkan kapasitas export. Ditambah lagi, neraca perdagangan masih tetap defisit karena tingginya import non migas. Awal mulanya Tubuh Pusat Statistik (BPS) melaunching data neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 yang kembali alami defisit UDS2,05 miliar. Realisasi neraca perdagangan ini makin turun di banding Oktober 2018 yang ikut defisit sebesar USD1,82 miliar.
Baca juga : Jurusan di PENS
"Dorong kapasitas export. Yakinkan utang di hedging atau lindung nilai hingga terbangun dari beda kurs yang berefek, lantas kontrol import migas melalui percepatan implementasi b20. Juga bisa dengan dorong PLN supaya ingin serap biodisel untuk pembangkit listrik tenaga diesel," tuturnya.
Karena hal itu, Ia ikut merekomendasikan supaya tingkatkan export kelapa sawit ke sejumlah negara. Diantaranya menguatkan team negosiasi penentuan tarif sawit pada pemerintah India.
Comments
Post a Comment