Syuting di Hutan, Pemeran Tepian Kelana Dikencingi Monyet
Semenjak Jumat (8/2) lantas, situs series berjudul "Tepian Kelana" bisa di nikmati oleh khalayak lewat gadget. Situs series yang di luncurkan PT Pertamina itu ambil latar belakang tempat di lokasi Gunung Gergaji, Kalimantan Timur.
Daerah itu mempunyai Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang tengah diusulkan jadi World Heritage UNESCO. Film instruksi Dimas Prasetyo ini juga berusaha untuk menyediakan perihal yang berlainan.
Kedatangan Tepian Kelana sendiri berdasarkan keprihatinan pada anak muda yang sangat asik dengan gadget hingga menghilangkan jalinan sosial dengan yang lain. Di sini tersaji pesan positif tentang keluarga, pertemanan serta menyukai ataupun melestarikan alam.
Baca juga : Jurusan di UIN SGD
Tepian Kelana mengusung cerita dua anak muda menelusuri pedalaman Kalimantan Timur. Mini series ini tampilkan dua pendatang baru yang mewakili generasi milenial Faris Nahdi yang bertindak menjadi Dani Bastian, seseorang anak muda individualistis serta ambisius yang profesinya menjadi konten creator.
Lalu bintang muda berpotensi Devi Rahma yang beperan menjadi Vira. Cewek yang senang penjelajahan ini dilukiskan menjadi seseorang vlogger. Dalam video ini Dani serta Vira ikut serta pada suatu cerita perjalanan melawan di rimba Kalimantan. Penuh ketegangan, perseteruan, serta tentunya sarat arti.
Baik Faris ataupun Devi miliki pengalaman unik saat proses syuting di dalam rimba. Dari mulai lihat langsung buaya di jalur Sungai Mahakam, melihat orang utan bergelantungan, digigit pacet, sampai dikencingi monyet. "Kita mesti dapat bertahan di dalam keadaan alam yang betul-betul tidak dapat tersangka," tegas Devi.
Keadaan alam serta cuaca yang susah diperkirakan membuat proses pembuatan situs series ini sudah sempat terlambat sehari, sebab hujan deras hampir satu hari penuh yang membuat air sungai pasang. Waktu itu beberapa kru susah untuk tidur pulas. "Kita dapat dengar beberapa suara alam seperti kayu yang sama-sama bertubrukan di sungai itu kita dengar. Itu tidak sempat kita alami awal mulanya," tutur Faris.
Saat 12 hari ada di dalam rimba serta tidak ada tanda telekomunikasi, beberapa kru termasuk juga pemain hidup tiada gawai. "Ya, pada akhirnya saat pembuatan situs series ini menyadarkan kita di sekitar kita masih tetap ada orang yang lain. Saat syuting hidup kita pun lebih teratur. Tidur jam 9 malam, Bangun pagi jam 5. Sebab kita tidak main smartphone," papar Faris.
Baca juga : Jurusan di BINUS
Selain itu, PT Pertamina lewat Alat Communication Manager, Arya Dwi Paramita mengutarakan jika melalui situs series ini Pertamina ingin mengemukakan pesan utamanya kolaborasi dalam mencapai keberhasilan pada generasi milenial. "Kolaborasi dapat dikerjakan dengan rekanan kerja, rekan, mitra sampai kolaborasi dengan alam serta lingkungan," paparnya.
Saat yang sama, Corporate Secretary PT Pertamina, Syahrial Mukhtar mengharap, lewat situs series ini generasi muda terutamanya milenial dapat mengerti utamanya bersinergi dengan seputar. Karena, menurut dia, semuanya semakin lebih baik bila dikerjakan bersama.
"Kita mengharap ini jadi usaha membuat rekan-rekan milenial kembali mengerti jika kita menjalankan suatu sendiri akan berlainan akhirnya dibanding bersama," tutur Syahrial.
Daerah itu mempunyai Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang tengah diusulkan jadi World Heritage UNESCO. Film instruksi Dimas Prasetyo ini juga berusaha untuk menyediakan perihal yang berlainan.
Kedatangan Tepian Kelana sendiri berdasarkan keprihatinan pada anak muda yang sangat asik dengan gadget hingga menghilangkan jalinan sosial dengan yang lain. Di sini tersaji pesan positif tentang keluarga, pertemanan serta menyukai ataupun melestarikan alam.
Baca juga : Jurusan di UIN SGD
Tepian Kelana mengusung cerita dua anak muda menelusuri pedalaman Kalimantan Timur. Mini series ini tampilkan dua pendatang baru yang mewakili generasi milenial Faris Nahdi yang bertindak menjadi Dani Bastian, seseorang anak muda individualistis serta ambisius yang profesinya menjadi konten creator.
Lalu bintang muda berpotensi Devi Rahma yang beperan menjadi Vira. Cewek yang senang penjelajahan ini dilukiskan menjadi seseorang vlogger. Dalam video ini Dani serta Vira ikut serta pada suatu cerita perjalanan melawan di rimba Kalimantan. Penuh ketegangan, perseteruan, serta tentunya sarat arti.
Baik Faris ataupun Devi miliki pengalaman unik saat proses syuting di dalam rimba. Dari mulai lihat langsung buaya di jalur Sungai Mahakam, melihat orang utan bergelantungan, digigit pacet, sampai dikencingi monyet. "Kita mesti dapat bertahan di dalam keadaan alam yang betul-betul tidak dapat tersangka," tegas Devi.
Keadaan alam serta cuaca yang susah diperkirakan membuat proses pembuatan situs series ini sudah sempat terlambat sehari, sebab hujan deras hampir satu hari penuh yang membuat air sungai pasang. Waktu itu beberapa kru susah untuk tidur pulas. "Kita dapat dengar beberapa suara alam seperti kayu yang sama-sama bertubrukan di sungai itu kita dengar. Itu tidak sempat kita alami awal mulanya," tutur Faris.
Saat 12 hari ada di dalam rimba serta tidak ada tanda telekomunikasi, beberapa kru termasuk juga pemain hidup tiada gawai. "Ya, pada akhirnya saat pembuatan situs series ini menyadarkan kita di sekitar kita masih tetap ada orang yang lain. Saat syuting hidup kita pun lebih teratur. Tidur jam 9 malam, Bangun pagi jam 5. Sebab kita tidak main smartphone," papar Faris.
Baca juga : Jurusan di BINUS
Selain itu, PT Pertamina lewat Alat Communication Manager, Arya Dwi Paramita mengutarakan jika melalui situs series ini Pertamina ingin mengemukakan pesan utamanya kolaborasi dalam mencapai keberhasilan pada generasi milenial. "Kolaborasi dapat dikerjakan dengan rekanan kerja, rekan, mitra sampai kolaborasi dengan alam serta lingkungan," paparnya.
Saat yang sama, Corporate Secretary PT Pertamina, Syahrial Mukhtar mengharap, lewat situs series ini generasi muda terutamanya milenial dapat mengerti utamanya bersinergi dengan seputar. Karena, menurut dia, semuanya semakin lebih baik bila dikerjakan bersama.
"Kita mengharap ini jadi usaha membuat rekan-rekan milenial kembali mengerti jika kita menjalankan suatu sendiri akan berlainan akhirnya dibanding bersama," tutur Syahrial.
Comments
Post a Comment