Dina Sempat di Remehkan Orang (Perancang Jembatan Terbanjang)
Dina sendiri sebetulnya telah mempunyai jalinan baik dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang mengerjakan project LRT Jabodebek. Perusahaan tempatnya kerja PT Cipta Graha Kekal seringkali dipakai jasanya oleh Adhi Karya.
Walau demikian, Dina harus melalui proses persaingan dengan 3 desainer jembatan dari Perancis. Pada akhirnya ia sukses menaklukkan 3 design konsultan asing itu.
"Jadi dari tiga design barusan diambil telah satu, tetapi dengan tiang ditengah-tengah. Nah sebab butuh pertolongan jadi Adhi Karya meminta pertolongan saya dapat tidak bantuin yang berada di tengah. Saya katakan jika pier jembatan ditengah-tengah saya tidak referensi serta saya tidak ingin lakukan," terangnya.
Baca Juga : Biaya Kuliah UNUD
Menurut Dina bila titik jembatan itu memakai pier di tengahnya akan susah dikerjakan. Karena di bawahnya ada jalan layang yang melintang rapat serta termasuk lebar. Kalaulah dapat, harus memakai tehnologi super hebat dengan ongkos yang lumayan besar.
"Saya katakan saya ingin membantu tetapi tidak ada pier ditengah-tengah, melengkung. Di situlah berlangsung pertentangan. Mereka melawan saya, tetapi saya mah kokoh. Jika itu harusnya dapat. Sebab alasan saya pertama jembatan semacam itu pernah ditangani, tetapi tidak selama itu. Cuma hanya itu," katanya.
Dina meyakini dengan cara design yang dia bikin, karena awalnya ia pernah mendesain jalan layang TransJakarta di Adam Malik dengan bentuk melengkung. Namun lebih pendek, yaitu 128 mtr..
"Jadi jika kata beberapa pengawas dari Jepang, Korea mereka katakan bagaimana dapat menyambung, ini kan melengkung. Saya katakan saya meyakini jika itu dapat. Mereka tidak yakin engineer Indonesia dapat serta tidak yakin kontraktornya dapat," katanya.
Dina ingat saat pertama-tama hadir bawa rancangannya dalam rapat. Waktu itu ia disepelekan oleh beberapa konsultan asing seperti konsultan dari Prancis, Systra.
"Waktu saya hadir pertama-tama seperti jualan obat hadir sendirian, diberi pertanyaan 'bisa design jembatan?' kata si Prancisnya. Datanglah salah satunya direksi Adhi Karya katakan loh malah kita menunggu-nunggu dapat bekerja bersama kembali dengan Ibu Dina. Disana saya tunjukin slide-slide jembatan saya di situlah dari Systra yakin saya dapat design jembatan. Tetapi belum sepakat sebab cukup lama pertentangan, pada akhirnya Adhi Karya yakin design saya dapat dikerjakan serta Adhi Karya dapat lakukan. Alhamdulillah berlangsung," kenangnya.
Banyak faksi melihat jika sekarang jembatan longspan melengkung dengan panjang 148 mtr. tidak pernah berada di Dunia. Dina sendiri pernah membuat design longspan selama 180 mtr. di Perawang, Riau tetapi memiliki bentuk lurus.
Baca Juga : Universitas Udayana
"Jadi yang dari Jepang katakan ini pertama-tama di dunia kamu tidak dapat nyontoh. Ya ngapain nyontek. Tetapi saya meyakini dapat. Sebab prinsip dasarnya ada, tetapi ini panjang, memang tingkat risikonya yang semakin lebih lama serta semakin besar," katanya.
Menurut dia proses semenjak ia ajukan design sampai pada akhirnya pembuatan diawali memerlukan waktu sampai dua tahun. Karena tidak hanya harus hadapi beberapa konsultan, Dina harus juga memperoleh sertifikasi wajar design dari KKJTJ (Komite Keselamatan Jembatan serta Terowongan Jalan).
"Jadi beberapa proses rekonsilasi sampai usai itu yang memerlukan waktu lama, serta jembatannya tidak dapat ngecor jadi semua, maju satu ada umurnya 3-4 hari baru bisa. saya katakan mah dijahit, nunggu kuat dahulu baru ditarik, baru ia maju, tarik ia maju," tutupnya.
Walau demikian, Dina harus melalui proses persaingan dengan 3 desainer jembatan dari Perancis. Pada akhirnya ia sukses menaklukkan 3 design konsultan asing itu.
"Jadi dari tiga design barusan diambil telah satu, tetapi dengan tiang ditengah-tengah. Nah sebab butuh pertolongan jadi Adhi Karya meminta pertolongan saya dapat tidak bantuin yang berada di tengah. Saya katakan jika pier jembatan ditengah-tengah saya tidak referensi serta saya tidak ingin lakukan," terangnya.
Baca Juga : Biaya Kuliah UNUD
Menurut Dina bila titik jembatan itu memakai pier di tengahnya akan susah dikerjakan. Karena di bawahnya ada jalan layang yang melintang rapat serta termasuk lebar. Kalaulah dapat, harus memakai tehnologi super hebat dengan ongkos yang lumayan besar.
"Saya katakan saya ingin membantu tetapi tidak ada pier ditengah-tengah, melengkung. Di situlah berlangsung pertentangan. Mereka melawan saya, tetapi saya mah kokoh. Jika itu harusnya dapat. Sebab alasan saya pertama jembatan semacam itu pernah ditangani, tetapi tidak selama itu. Cuma hanya itu," katanya.
Dina meyakini dengan cara design yang dia bikin, karena awalnya ia pernah mendesain jalan layang TransJakarta di Adam Malik dengan bentuk melengkung. Namun lebih pendek, yaitu 128 mtr..
"Jadi jika kata beberapa pengawas dari Jepang, Korea mereka katakan bagaimana dapat menyambung, ini kan melengkung. Saya katakan saya meyakini jika itu dapat. Mereka tidak yakin engineer Indonesia dapat serta tidak yakin kontraktornya dapat," katanya.
Dina ingat saat pertama-tama hadir bawa rancangannya dalam rapat. Waktu itu ia disepelekan oleh beberapa konsultan asing seperti konsultan dari Prancis, Systra.
"Waktu saya hadir pertama-tama seperti jualan obat hadir sendirian, diberi pertanyaan 'bisa design jembatan?' kata si Prancisnya. Datanglah salah satunya direksi Adhi Karya katakan loh malah kita menunggu-nunggu dapat bekerja bersama kembali dengan Ibu Dina. Disana saya tunjukin slide-slide jembatan saya di situlah dari Systra yakin saya dapat design jembatan. Tetapi belum sepakat sebab cukup lama pertentangan, pada akhirnya Adhi Karya yakin design saya dapat dikerjakan serta Adhi Karya dapat lakukan. Alhamdulillah berlangsung," kenangnya.
Banyak faksi melihat jika sekarang jembatan longspan melengkung dengan panjang 148 mtr. tidak pernah berada di Dunia. Dina sendiri pernah membuat design longspan selama 180 mtr. di Perawang, Riau tetapi memiliki bentuk lurus.
Baca Juga : Universitas Udayana
"Jadi yang dari Jepang katakan ini pertama-tama di dunia kamu tidak dapat nyontoh. Ya ngapain nyontek. Tetapi saya meyakini dapat. Sebab prinsip dasarnya ada, tetapi ini panjang, memang tingkat risikonya yang semakin lebih lama serta semakin besar," katanya.
Menurut dia proses semenjak ia ajukan design sampai pada akhirnya pembuatan diawali memerlukan waktu sampai dua tahun. Karena tidak hanya harus hadapi beberapa konsultan, Dina harus juga memperoleh sertifikasi wajar design dari KKJTJ (Komite Keselamatan Jembatan serta Terowongan Jalan).
"Jadi beberapa proses rekonsilasi sampai usai itu yang memerlukan waktu lama, serta jembatannya tidak dapat ngecor jadi semua, maju satu ada umurnya 3-4 hari baru bisa. saya katakan mah dijahit, nunggu kuat dahulu baru ditarik, baru ia maju, tarik ia maju," tutupnya.

Comments
Post a Comment